Tampilkan postingan dengan label gili. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gili. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Februari 2016

Naga dari Nusa Tenggara, Bagian 2: Terlunta-lunta di Lombok

Setelah persiapan penuh drama, akhirnya tiba juga hari keberangkatan gue ke Lombok. Minggu pagi gue bergegas dari kostan di daerah Mampang Prapatan Jakarta Selatan ke Cengkareng karena pesawat gue akan berangkat jam sembilan pagi dari Bandara Internasional Soekarno Hatta. Dua jam penerbangan ditambah perbedaan waktu sejam antara Jakarta dan Lombok, pesawat gue dijadwalkan sampai di Bandara Internasional Lombok Praya sekitar jam 12 siang dan alhamdulillah tepat waktu. Padahal pakai maskapai yang terkenal akan keterlambatannya itu, lho.

Sampai di Bandara Lombok, bingung karena celingak-celinguk nyari bus damri nggak ada dimana-mana. Taksi? hmm males banget deh pergi sendirian naik taksi karena... MAHAL! hasil googling rata-rata minta sekitar 200 ribuan untuk ke tujuan gue, Senggigi. Beda jauh sama naik damri yang cuma 35 ribu. Hmm gila aja, bisa buat makan dua hari itu selisihnya. Masih bertekad menemukan damri, gue jalan lagi keluar dan akhirnya kegigihan gue terbayar, ketemu! tapi setelah tanya ke supirnya, ternyata bus damri hari ini cuma sampai ke pool bus mereka aja di Terminal Mandalika nggak kayak hari biasa yang sampai ke Senggigi karena jalanan macet banget akibat musim liburan. Duh pak...
Dengan langkah gontai karena bingung harus naik apa, gue jalan balik ke pintu bandara, dan kemudian ngelihat ada pos polisi bandara. Daripada bingung sendiri, gue memutuskan mending tanya-tanya pak polisi aja.

Sayangnya pak polisi juga menyuruh gue naik taksi karena emang hanya itu yang tersedia disini selain bus damri. Pasrah, akhirnya gue memutuskan untuk akan pergi naik taksi. Tapi karena udah terlanjur duduk, ya gue basa-basi aja dulu sama pak polisi. Dia tanya ini pertama kali ke Lombok? gue jawab iya. Bla bla bla.. banyak banget yang diobrolin sampai ke pertanyaan kerja dimana? Begitu tau kalau gue kerja di salah satu stasiun TV swasta yang salah satu programnya tentang pekerjaan polisi itu, si bapak langsung semangat. Dia bilang programnya keren, walaupun program itu belum pernah shooting bareng Kepolisian Lombok. Singkat cerita, pak polisi yang ternyata bernama Pak Irawan ini (gue baru tau namanya setelah di dalam mobil :D) menawarkan tumpangan naik mobilnya buat kearah Senggigi. Gratis!. Yes, rejeki anak gendut! Alhamdulillaaah.

Sampai di Senggigi, gue langsung cari penginapan yang banyak direkomendasiin teman-teman blogger lainnya, gue lupa nama hostelnya apa, yang jelas lokasinya di dalam gang sepanjang Jalan Raya Senggigi, deh. Selain pancakenya yang enak, nggak ada yang spesial dari hostel ini. Tapi untuk harga 80 ribu permalam, rasanya cukup worth it, lah, untuk sekadar melepas lelah di malam hari.

Selesai check in, langsung jalan-jalan keliling Pantai Senggigi. Ramainya luar biasa, sebelas dua belas lah sama Pantai Ancol. Hmm, rasanya kurang tepat berkunjung kesini di musim liburan. Di tengah keramaian *halah* gue teringat rekomendasi Kak Iqbal dan VJ Galak, selain ayam taliwang dan plecing kangkungnya yang sudah tersohor itu, ada satu makanan khas Lombok yang nggak kalah enaknya, yaitu sate bulayak. Sebenarnya sama aja sate ayam dan sapi seperti biasa, tapi bumbunya itu bumbu kacang yang sebelum digiling, sudah direbus dulu pakai santan. Sedangkan yang dimaksud dengan bulayak itu sendiri adalah sejenis lontong yang mendampingi sate tersebut. Bedanya lontong bulayak ini dibungkus menggunakan daun aren, bukan daun pisang. Penjual sate bulayak ini bisa ditemukan sepanjang pesisir pantai di Senggigi. Harganya pun cukup murah, cuma 10 ribu per porsi. Kapan lagi coba sate ini? Langsung deh tanpa ragu-ragu gue sikat seporsi :P

Rasa satenya enak! Mungkin karena kacangnya sudah bersatu padu *apeeeu* dengan santan. Gurih dan agak sedikit manis. Sementara kalau lontong bulayaknya sih, biasa aja seperti lontong-lontong pada umumnya. Disaat gue sedang asyik khusyuk menikmati seporsi sate bulayak bersama es kelapa, tiba-tiba turun hujan dan orang-orang langsung berhamburan meninggalkan pantai. Untung penjual sate ini beratapkan tenda, jadi masih bisa santai deh.

Kalau kata Cholil ERK ada pelangi yang setia menunggu hujan reda, nyatanya gue nggak mendapatkan itu. Yang ada hanya langit berawan hingga menutupi sunset yang harusnya datang kira-kira tiga puluh menit lagi itu. Ya sudah, karena nggak ada lagi yang bisa dilakukan di pantai, gue balik ke penginapan saja.

Senin, 08 Februari 2016

Naga dari Nusa Tenggara, Bagian 1: Persiapan Penuh Drama

Kisah keberangkatan gue ke Flores, Nusa Tenggara Timur ini dimulai ketika salah satu backpacker-mate gue, Bang Emin, semangat banget nyeritain pengalaman dia jalan-jalan ke bagian timur gugusan kepulauan sunda kecil ini ke gue dan Fachry, kawan backpacker gue yang lain lagi. Dia cerita bagaimana indahnya alam disana baik di atas daratan maupun di bawah permukaan laut. Gue yang pengalaman snorkeling paling mantepnya cuma di Pahawang, langsung semangat ketika Bang Emin ngajakin, "yuk kita jalan kesana". Bukan apa-apa, selain cinta banget sama dunia bawah laut, gue juga penasaran sama keberadaan makhluk prasejarah yang tersisa disana. Yup, apalagi kalau bukan komodo. Penasaran aja sih dari dulu, kenapa dari sekian banyak pulau yang ada di dunia, kadal terbesar di dunia (menurut national geographic) ini hanya bisa bertahan hidup di wilayah Flores sana. 

Akhirnya kita janjian akan jalan kesana di akhir juli 2015, kira-kira dua minggu setelah lebaran. Saking semangatnya, tiap malam sebelum tidur gue selalu googling tentang keindahan pulau-pulau di sana, biar uang tabungan gue yang sudah gue anggarkan untuk liburan kesana gak tergoda buat gue belanjain ini itu :D. 

Singkat cerita di suatu malam bulan puasa Bang Emin ngajakin gue dan Fachry ngopi-ngopi di daerah Tebet untuk ngomongin liburan kita kali ini. And you know what? Malam itu Bang Emin dan Fachry yang statusnya kala itu masih mahasiswa di salah satu kampus Ibukota malah ngebatalin pergi karena mereka ternyata ada jadwal ujian ditanggal-tanggal itu. Anjrittt. Gue udah bela-belain nggak cuti di hari lebaran demi bisa ambil cuti di tanggal itu, eh masa nggak jadi pergi? Udah ngiler berbulan-bulan ngeliatin foto-foto di google masa nggak jadi pergi? No way!!

Akhirnya dengan tubuh yang sehat dan jiwa yang kuat, gue memutuskan kalau trip kali ini gue akan jalan sendiri! Walaupun agak deg-degan karena ini akan jadi pengalaman solo backpacking ke luar Pulau Jawa gue pertama, gue nggak akan membiarkan waktu cuti ini terbuang sia-sia. Bermodalkan googling sana-sini, akhirnya gue memutuskan untuk terbang ke Lombok dan ikut live on board pakai kapal wisata dari kencanaadventure.com. Dengan kapal ini, gue bakal menempuh perjalanan empat hari tiga malam diatas kapal dari Lombok ke Labuan Bajo. Selama empat hari itu, kita bakal diajak singgah ke berbagai pulau cantik di sekitar kepulauan Nusa Tenggara, salah satunya Pulau Komodo!

Booking tiket kapal beres, selanjutnya tinggal cari cara gimana untuk sampai Lombok? Kapal gue berangkat hari senin, sementara gue punya waktu dari hari sabtu. Rencana mau naik kereta dari Jakarta sampai Banyuwangi, terus naik bus dan fery melintasi Pulau Dewata sampai ke Lombok biar ngirit. Apa daya, setelah dikalkulasi ternyata waktunya nggak cukup. Buru-buru lah gue booking tiket pesawat ke Lombok untuk penerbangan hari minggu. Berarti gue punya waktu sehari buat jalan-jalan keliling Lombok. Tiket pulang sengaja belum gue beli, karena gue akan selesai live on board di hari kamis, sementara cuti gw masih sampai hari selasa minggu depannya. Go with the flow aja kemana kaki ini melangkah, hehehe..

Penasaran gimana kisah solo backpacking gue selama menjelajah Provinsi Nusa Tenggara? Tunggu postingan selanjutnya ya 😁😁😁